Senin, 19 Desember 2011

Pendidikan Islam dalam Membangun Masyarakat Madani


A.    Latar Belakang Masalah

Pada saat ini banyak masyarakat yang menginginkan suatu perubahan dalam semua aspek kehidupan, yakni kehidupan yang memiliki suatu komunitas kemandirian aktifitas warga masyarakatnya, yang berkembang sesuai dengan potensi budaya, adat istiadat dan agama. Dengan mewujudkan dan memperlakukan nilai-nilai keadilan, kesetaraan, penegakan hukum, kemajemukan(pluralisme) serta perlindungan terhadap kaum minoritas.
Kondisi kehidupan seperti ini terlihat dalam konsep masyarakat madani yang ada pada zaman Rosululloh. Hal ini juga merupakan sebuah tuntutan dalam Al-Qur’an kepada manusia, untuk memikirkan merekonstruksi suatu masyarakat ideal berdasarkan petunjuk Al-Qur’an. Sebuah isyaroh Al-Qur’an mengenai masyarakat madani terdapat dalam surat Al Maidah: 48.

Konsep masyarakat madani merupakan konsep yang bersifat universal, sehingga  perlu adaptasi dan disosialisasikan apabila konsep ini akan diwujudkan.Hal ini terjadi karena konsep masyarakat madani memiliki latar belakang sosial budaya yang berbeda. Apabila konsep ini akan diaktualisasikan maka diperlukan suatu perubahan kehidupan. Langkah yang kontinyu dan sistematis yang dapat merubah paradigma kebiasaan dan pola hidup masyarakat, untuk itu diperlukan berbagai terobosan dan penyusunan konsep serta paradigma baru dalam menghadapi tuntutan baru.
Sektor pendidikan memiliki peran yang strategis dalam membangun masyarakat madani. Pendidikan senantiasa berusaha untuk menjawab kebutuhan dan tantangan yang muncul dalam masyarakat. Oleh karena itu peran pendidikan sangat diperlukan untuk mempersiapkan individu dan masyarakat, sehingga memiliki kemampuan dan motivasi serta berpartisipasi secara aktif dalam meng aktualisasikan masyarakat madani. Berangkat dari sinilah penilis akan megkaji permasalahan ini dengan rumusan sebagai berikut:
  1. Bagaimana konsep masyarakat madani ?
  2. Bagaimana konsep pendidikan islam dalam masyarakat madani ?


B. Pembahasan

1.      Pengertian masyarakat madani
Terminologi masyarakat madani pertama kali dipopulerkan oleh Mohammad An-Nuqaib Al-Attas, yaitu Mujtamak madani yang secara etimologi mempunyai dua arti: pertama, masyarakat kota. Kedua masyarakat yang beradap (masyarakat tamaddun). Dalam bahasa Inggris dikenal dengan civilty atau civilation, dalam makna ini masyarakat madani dapat berarti dengan Civil Society yaitu masyarakat yang menjunjung peradaban.( Barnadib,1998:14)
Hal di atas bukan berarti antara civil society dan masyarkat madani memiliki makna yang sama karena civil society merupakan erkembangan pemikiran yang ada di dunia Barat, yang tentu berbeda dengan budaya sosial masyarakat Islam. Dalam perspektif Islam social society lebih mengacu kepada penciptaan peradaban. Berkaitan mengenai makna At Tamaddun yang berarti peradapan dengan Al-Madinah yang berati kota,maka civil of society diterjemahkan sebagai masyarakat madani yang mengandung tiga hal yaitu: agama yang merupakan sumbernya dan peradapan adalah prosesnya serta masyarakat kota adalah hasilnya (Wibowo,1990:59)
Kemajemukan masyarakat Madinah mengakibatkan munculnya permasalahan sosial yang harus diantisipasi dengan baik  pada saat itu . Oleh karena Nabi Muhammad bersama  penduduk Madinah meletakkan dasar masyarakat Madinah dengan menggariskan ketentuan hidup bersama dalam suatu dokumen yang dikenal dengan piagam Madinah. Hal tersebut diangap sebagai konstitusi tertulis yang pertama dalam sejarah manusia.
Istitusi piagam Madinah yang berjumlah 47 pasal secara formal mengatur hubungan sosial antara komponen masyarakat dari sesama muslim dan antar komunitas muslim dengan non muslim. Di dalamnya juga terdapat nilai dasar yang tertuang sebagai fundamental dalam mendirikan dan membangun negara Madinah yaitu prinsip kesederajatan dan keadilan. Hal ini mencakup semua aspek baik politik, ekonomi, maupun hukum. Dan yang kedua adalah insklusivisme (keterbukaan) konsekwensi dari kemanusiaan yang merupakan suatu pandangan secara positif dan optimis dalam memandang manusia yang pada dasarnya baik. Kedua prinsip ini menjadi landasan ideal dan operasional dalam menjalin hubungan masyarakat  yang mencakup semua aspek kehidupan.(Ahatta,2001:181)
2.      Karakteristik Masyarakat Madani
Berdasarkan gambaran masyarakat madani di atas, maka dapat kita lihat beberapa karakteristik sebagai berikut:
a.       Masyarakat kota yang berperadaban dan mampu menciptakan peradaban.
b.      Masyarakat yang memiliki pola kehidupan yang benar.
c.       Masyarakat yang terbuka, pluralistik menjamion kebebasan beragama, jujur,adil,  mandiri dan menghormati hak asasi manusia.
Hal tersebut akan dapat mewujudkan masyarakat sebagai berikut:
1.masyarakat yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, yang memiliki pemahaman agama secara mendalam serta hidup berdampingan dan menghargai perbedaan agama masing-masing.
2.masyarakat demokratis dan beradap yang menghargai perbedaan pendapat.
3.masyarakat yang menghargai hak asasi manusia dan sadar akan hukum.
4.masyarakat yang kreatif, mandiri, percaya diri untuk memiliki orientasi kuat dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
5.masyarakat yang memiliki suasana yang kompetitif dan penuh persaudaraan dengan bangsa lain disertai semangat kemanusiaan universal. (An-Sanaqi,2003:50)
Untuk dapat merealisasikan sebuah tatanan masyarakat di atas, maka banyak pemikir Islam yang menyatakan perlu adanya tingkat pendidikan yang memadai dan berkualitas dalam membangun sumber daya manusia. Hal tersebut pendidikan memiliki peran yang strategis dalam membangun masyarakat madani, terutama pendidikan Islam. Oleh karena itu diperlukan terobosan pemikiran kembali suatu konsep pendidikan Islam yang disesuaikan dengan fungsinya untuk memberdayakan manusia dan masyarakat. Pendidikan Islam perlu melakukan perubahan untuk mewujudkan misi baru yang sesuai dengan tuntutan perubahan dalam mewujudkan masyarakat madani.
3.      Pembaharuan Paradigma Pendidikan Islam.
Perubahan paradigma pendidikan Islam dari peradigma yang berorientasi pada pendidikan masa lalu (abad pertengahan) ke paradigma yang berorientasi ke masa depan. Seperti paradigma dualisme pendidikan Islam yaitu adanya dikotomi ilmu yang menjadi bidang garapan pendidikan Islam yakni ilmu agama dan ilmu umum. Paradigma yang mengawetkan kemajuan ke paradigma yang merintis kemajuan, paradigma yang sentralistik ke paradigma yang desenralistik, proses pendidikan yang berorientasi teacher center ke student center, pendidikan yang selama ini difokiskan dengan pengajaran (teaching) harus difokuskan ke pendidikan(learning).
Dengan adanya perubahan paradigma di atas diharapkan dapat memberikan rekonstruksi terhadap asas yang mendasar atau arah pendidikan di dalam usaha meletakkan dasar yang paling rasional untuk mengubah praksis pendidikan di dalam rangka membangun masyarkat yang demokratis, religius dan tangguh menghadapi tantangan internal maupun global menuju masyarakat madani.( An Sanaqi,2003:30)
4.Konsep Pendidikan Islam dalam Membangun Masyarakat Madani.
Konsep pendidikan adalah sebuah pemikiran yang akan menjadi dasar pengaplikasian kegiatan pendidikan atau model desain suatu lembaga pendidikan (Purtanto,1994:30). Sebagai konsep pendidikan Islam yang telah ditawarkan oleh hasyim Amir yang dikutip oleh A.Malik Fajar,untuk menghadapi perubahan  pendidikan dalam masyarakat madani adalah pendidikan yang idealistik yaitu suatu konsep pendidikan yang integralistik, humanistik, pragmatik yang berdasarkan pada budaya yang kuat. (Mastuhu,1999:132)
a.       Konsep Pendidikan Integralistik
Yaitu pendidikan yag diorientasikan pada komponen kehidupan meliputi orientasi Robbaniyyah (ketuhanan), insaniyya (kemanusiaan) dan alamiyah. Sebagai sesuatu yag integralistik bagi perwujudan kehidupan yang baik serta pendidikan yang menganggap manusia sebagai pribadi jasmani, rohani, intelektual, perasaan, dan individu sosial yang akan menghasilkn manusia yang memiliki integritas yang tinggi.
b.      Konsep Pendidikan Humanistik.
Pendidikan yagn berorientasi dengan memandang manusia sebagai manusia yakni makhluk ciptaan Tuhan dengan fitrahnya, manusia makhluk hidup yang harus mampu melangsungkan dan mempertahankan hidupnya. Posisi pendidikan dapat menghasilkan manusia yang manusiawi, mengembangkan damn membentuk manusia yang berfikir, berasa dan berkemauan untuk bertindak sesuai dengan nilai luhur kemanusiaan.
c.       Konsep Pendidikan Pragmatik
Pendidikan yang memandang manusia sebagai makhluk hidup  yang selalu membutuhkan sesuatu untuk melangsungkan dan mengembangkan hidupnya baik bersifat maupun rohani. Dengan demikian, model pendidikan ini diharapkan dapat mencetak manusia pragmatik yang sadar akan kebutuhan hidupnya dan peka terhadap masalah sosial kemanusiaan.
d.      Pendidikan yang Berakar dari Budaya
Yaitu pendidikan yang tidak meninggalkan akar sejarah baik secara kemanusiaan umumnya maupun sejarah kebudayaan suatu bangsa. Pendidikan ini diharapkan dapat membentuk manusia yang mempunyai kepribadian, harga diri dan percaya pada diri sendiri untuk membangun peradaban  berdasarkan budaya.
Dengan konsep pendidikan di atas akhirnya dapat dijadikan desain model pendidikan Islam untuk membangun masyarakat madani. Dalam bentuk operasionalnya sebagai berukut:
1.      mendesain model pendidikan umum Islami yang handal dan mampu bersaing dengan lembaga pendidikan yang lain. Dengan demikian visi misi dan tujuan pendidikan, kurikulum, materi pembelajaran, metode pembelajaran, manajemen pendidikan harus disesuaikan dengan tuntutan zaman.
2.      model pendidikan Islam yang tetap mengkhususkan pada desain pendidikan keagamaan, yaitu benar-benar sesuai dengan konsep-konsep Islam.
3.      model pendidikan agama Islam tidak hanya dilaksanakan  di sekolah formal tetapi juga di luar sekolah seperti di lingkungan keluarga masyarakat sehingga pendidikan agama dapat ditanamkan dan disosialisasikan yang menjadi kebutuhan peserta didik, akhirnya pendidikan agama Islam bukan lagi berupa pengetahuan yang di hafal tetapi menjadi kebutuhan dan perilaku aktual.
4.      desain pendidikan diarahkan pada dua dimensi. Dimensi itu meliputi a. dimensi dialektika (horisontal) pendidikan hendaknya dapat mengembangkan pemahaman tentang kehidupan manusia dalam hubungannya dengan alam/ lingkungan sosialnya, akhirnya manusia mempu mengatasi tantangan dan kendala melalui pengembangan iptek. b. dimensi vertikal, hal ini pendidikan sebagai jembatan dalam memahami fenomena dan misteri kehidupan yang abadi.
Keempat model pendidikan islam di atas perlu diupayakan untuk membangun masyarakat madani. Dengan demikian apapun model pendidikan Islam yang ditawarkan untuk membangun masyarakat madani pada dasarnya harus berfungsi untuk memberi kaitan antara peserta didik dengan nilai-nilai ilahiyah, pengetahuan, dan ketrampilan. Nilai-nilai demokrasi dan sosial cultural harus berfungsi untuk memberi kaitan secara operasional antara peserta didik dengan masyarkatnya.
B.     PENUTUP
Kosep pendidikan Islam senantiasa terus berkembang dan menghendaki pembaharuan yang disesuaikan dengan irama perkembangan dan kemajuan peradabaserta persoalan yang dihadapi manusia. Oleh karena itu perlu adanya pengkajian terhadap persoalan filosofis, visi misi, tujuan, kurikulum, serta metodologi dan operasional pendidikan Islam dalam membangun masyarakat madani.

0 komentar:

Poskan Komentar

Blog Guru

Blog Guru Indonesia

Blog Guru Topsites List